Showing posts with label journey. Show all posts
Showing posts with label journey. Show all posts

Saturday, January 16, 2010

Journey Akhir Tahun 2009 - dalam tata waktu acak - part-3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam melalui jalan tol yang melintasi padang rerumputan dimana sesekali terlihat hewan ternak memamah biak di bawah pengawasan gembalanya, akhirnya kita tiba di kota berikutnya, untuk transit sehari menunggu direct flight Garuda ke Jakarta keesokan harinya jam 9 malam.


Kita sampai di hotel sekitar jam 6 sore dengan perut penuh dijejali ayam Al Baik dalam keadaan setengah sadar kekenyangan. Kali ini kita nginep di Hilton yang terletak di pinggir laut. Well, sebetulnya bukan hal yang aneh sih, karena gw pernah nginep di Hilton kota lain beberapa kali. Tapi baru Hilton sini yang bisa bikin muka gw melongo kagum sekaligus bertingkah norak dengan melakukan tindakan pemotretan ilegal karena belum tentu gw bisa nginep di sini setahun sekali.


Memasuki pintu hotel, kita dipersilahkan untuk menunggu di lobi terbuka yang dikelilingi oleh deretan kamar bertingkat yang mengelilingi lobi.



Gw bersama tamu lain duduk di deretan kursi dari marmer segi empat yang berbentuk melingkar (kanan gambar), menunggu pembagian card kamar sambil memandang seluruh sudut hotel mencari peluang untuk berbuat kejahatan. Gw baru hentikan niat gw setelah melihat belasan kamera cctv menjejali atap pintu masuk hotel.



Dengan pengamanan ekstra ketat seperti ini, gw yakin bahkan pencuri sendal hotel dengan mudah terpergoki dan memudahkan satpam melakukan pengejaran dan kemudian menelikung tersangka sampai tersangka berteriak menyerah sambil memukul matras 3 kali.


Gw memandang ke atas, dan gw baru tersadar kalau gedung hotel ini berbentuk segi lima setelah gw melihat bentuk atap hotel. Lantai teratas dihubungkan oleh ’jembatan’ yang menghubungi beberapa family restaurant, sementara pohon palem tumbuh menjulang sampai ketinggian beberapa lantai kamar.



Setelah pembagian card kamar selesai, disepakati kalau gw stay di kamar 935 bareng sepupu gw. Berhubung gw udah kebelet, gw lari dulu ke toilet yang terletak di bawah lift. Selesai buang hajat di urinoir, begitu gw berbalik ke wastafel untuk cuci tangan, masa ampuuunnn....... Cakep banged wastafelnya!!!



Wastafel kayak gini yang bisa bikin gw tega mandiin bayi di sini. Gw cuma perlu geser kran kiri-kanan untuk mengatur suhu air trus pencet kran di kiri supaya sabun cairnya keluar, setelah itu bayi dengan bebas bisa berkecipakan gembira, loncat dari satu wastafel ke wastafel lain. Hanya saja keberadaan beberapa pria yang buang air kecil di urinoir depannya menimbulkan efek tidak sedap bagi pandangan mata.


Selesai berkhayal, gw naek ke kamar nyusul sepupu gw. Begitu masuk dan memandang isi kamar, gw langsung terhanyut dalam suasana romantis.



Sebuah kamar deluxe double bed dihiasi dengan lampu temaram dengan pemandangan balkon langsung ke arah laut. Bakalan romantis banget kalau gw nginep di sini bareng calon istri gw. Di saat benak gw melayang dalam mimpi manis, tiba-tiba pandangan gw tertumbuk pada sosok sepupu chubby gw yang tertidur pulas dengan posisi badan tidak beraturan, yang langsung menghancurkan khayalan indah gw.


Gw mendadak pusing, gw lari ke kamar mandi untuk menyelamatkan pencernaan gw. Begitu gw buka pintu, di hadapan gw terhampar sisa-sisa pertempuran sepupu gw yang hobi nge-bath up.



Gw sih cuek aja, gw gak berminat mandi berhubung gw tipe pemuda ramah lingkungan yang cukup mandi sekali sehari. Quote favorit gw di iklan layanan masyarakat adalah, ’Hemat water energy, pdam rugi’. Yang penting jas mandinya masih nyisa satu buat gw pake di photo box.


Gw cuma butuh kamar mandi buat pake deodoran dan nyemprotin parfum sekedarnya demi menyelamatkan harga diri gw saat dinner nanti. Selesai dari kamar mandi, gw bareng sepupu gw yang udah kebangun, turun ke bawah buat dinner yang dimulai jam ½ 8 malem. Kita dinner di Safina Restaurant, satu di antara beberapa restoran yang terletak di sebelah kanan lobi. Kerennya, setelah turun dari lift, kita masih harus turun lagi ke underground dengan eskalator setengah melingkar (beneran! gw baru pertama kali ngeliat eskalator melingkar kayak gini).



Bener-bener kehabisan kata-kata gw di sini. Boleh lah tukang dekornya, jangan-jangan owner-nya ngedatangin jin tomang buat buat ngebangun hotel ini dalam satu malam.


Perhatian gw dengan cepat teralih kepada makanan yang tersaji di ruangan restoran. Tiba-tiba gw lupa kalau gw baru saja mencerna dua potong ayam Al Baik. Dengan lincah gw memenuhi piring gw dengan panganan mewah dan mengganyangnya langsung dengan ganas. Belum sempat waitress menawarkan untuk menuangkan minuman ke gelas gw, gw keburu menyambar dua kaleng seven up dari baki waitress tadi. Waitress yang kelihatannya imigran dari India itu hanya menggeleng-gelengkan kepala tak berdaya.



Setelah pertempuran berakhir yang ditandai oleh sendawa keras gw, gw naek kembali ke kamar dan tertidur dengan pulas sampe keesokan harinya.


Bangun tidur, gw buka balkon dan melihat cantiknya kolam renang di bawah balkon serta indahnya pemandangan pantai yang terhampar sejauh mata memandang di

hadapan gw.



Sungguh hari ini gw merasakan nikmatnya kehidupan dunia. Mood gw berubah menjadi lebih ceria, gw siap untuk menjalani indahnya hari ini.




Thursday, January 14, 2010

Journey Akhir Tahun 2009 - dalam tata waktu acak - part-2

Setelah menyelesaikan pelbagai aktivitas di sini, akhirnya tiba waktunya kembali ke ibu kota Jakarta tercinta. Kita berangkat naik bis jam 10-an pagi menuju kota sebelah untuk transit sehari sebelum kita take off keesokan harinya naik Garuda flight jam 9 malem direct ke Jakarta.

Di perbatasan kota kita berhenti dulu untuk pengurusan dokumen administrasi. Gw pikir gak akan lama, karena harusnya tinggal ambil aja trus langsung gas! berangkat! Tapi menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu, kok gak ada kejelasan mengenai nasib kita ya?

Selain itu berhubung bis ditinggal para guide yang ngurus dokumen, para penumpang bis mulai menunjukkan gejala-gejala kehilangan kendali, bagaikan para narapidana ditinggal sipir.

Beberapa penumpang yang jenuh, keluar dari bis, kemudian ’keleleran’ di jalanan. Sebagian lagi bergosip dengan panas mana yang pantas digunakan untuk acara dansa? a scent by Issey Miyake atau parfum aroma rempah tjap ’Malaikat Subuh’ ?

Tiba-tiba ada seorang penumpang hiperaktif menyambar microphone tour guide kemudian berkaraoke gila-gilaan. Tindakan tersebut jelas mendorong penumpang lain untuk ber-koor ria ikut menyanyikan lagu yang dibawakan sang tersangka. Untung lagu yang diputar dari sound system bis itu arabian house music. Coba dia muterin lagu “Sunday Bloody Sunday”-nya U2 atau “The Masses Against the Classes”-nya Manic Street Preachers, bisa-bisa para penumpang terprovokasi untuk menusuk para pejalan kaki setempat.

Tidak puas dengan hanya berkaraoke, penumpang tersebut tiba-tiba duduk di bangku kemudi bis, sementara sang supir yang notabene imigran asal Mesir penyuka arabian house music tadi hanya memandang santai di luar bis sambil menghisap rokok nikmat.

Memang sih kokpit bis yang canggih cukup mengundang untuk iseng pencet sana pencet sini. Dikaroseri langsung dari Mesir, bis ini dilengkapi dengan aneka panel canggih dan monitor mini sebagai pengganti lampu spion. Gw pikir cuma bercanda aja, tapi ketika bis bergerak tersendat sejauh beberapa belas meter, gw langsung tunggang langgang meninggalkan bis.

Gw jalan ke kantor pengurusan dokumen yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat parkir bis gw. Kantornya lucu, mirip ruko sempit beberapa lantai yang dihubungkan oleh sebuah lift tua yang nampak seperti peninggalan pangeran Antasari. Tapi bukan itu yang menarik, apalagi setelah mendengar kabar kalau dokumen kita masih dalam perjalanan untuk dibawa ke kantor ini. Yang menarik justru banyaknya kendaraan mewah yang terparkir seadanya, teronggok berdebu seperti tidak akan digunakan lagi oleh pemiliknya. Ada mercy tiger, chev, dll yang menunjukkan tingginya tingkat konsumsi masyarakat di sini. Rusak dikit, buang! Rusak, buang! Amit-amit! Kalau dibawa ke Jakarta, mungkin bisa laku 60 jutaan per mobil. Gw cuma males bayar biaya overweight bagasi gw ke Garuda aja yang dibatasi 20 kg.

Setelah puas menaksir harga beberapa mobil yang terparkir malang melintang sana-sini di trotoar-trotoar jalan, gw memutuskan solat dzuhur sekalian jama’ dengan ashar di mesjid setempat. Mesjidnya lucu, bangunan tinggi tua yang ditutup rapat oleh gerbang tinggi. Agak-agak mirip gereja tua. Kalau gak ada suara adzan dan pergerakan massa yang berbondong-bondong untuk solat, mungkin gw gak akan tau kalau itu mesjid.

Uniknya lagi, jeda antara adzan dan qamat-nya lumayan panjang. Ada kali ½ jam gw nungguin qamat. Dan di jeda waktu tersebut, satu demi satu penduduk masuk melalui pintu tinggi tadi. Di shaf pertama dan kedua, ada semacam sandaran buat para jemaah untuk bersandar sambil membaca Al-Qur’an. Sungguh pemandangan menarik, gw suka melihat-lihat hal baru, apalagi dengan sudut pandang budaya yang berbeda.

Selesai solat, gw kembali ke bis. Kondisi bis bertambah semerawut akibat aktivitas masing-masing penumpang yang makin gak jelas juntrungannya. Beberapa penumpang membeli makanan ringan di minimarket terdekat. Produknya aneh-aneh, kayaknya produsen makanan di sini terobsesi dengan rasa salty. Sebagian besar produk snack di sini didominasi dengan rasa salt, rasa vetsin, rasa jeruk asem dll. Itu kali hal yang menunjukkan indikasi tingginya tingkat pertumbuhan masyarakat sini.

Kira-kira jam 2 siang, muncul sebuah kabar baik dari guide bahwa dokumen kami yang tadi dalam perjalanan, sudah sampai dan selesai diurus, sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Para penumpang menyambut gembira. Tapi guide tersebut menawarkan kepada kami untuk menunggu makanan yang sudah dipesan gratis untuk para penumpang melalui delivery service, selama sekitar 10 menitan, agar tidak mubazir.

Beberapa penumpang menunjukkan reaksi kurang antusias, karena sudah kebelet mau berangkat dan lagi perutnya sudah terganjal aneka cemilan tadi. Guide sendiri sih tidak masalah kalau kita langsung berangkat, karena kalaupun makanan delivery order tadi mubazir, itu sudah menjadi bagian dari service. Bis sudah starter, sambil jalan gw tanya ke guide, emang pesen apaan sih? Guide bilang sambil lalu, ”Al Baik”. Langsung gw teriak: STOP!!!

Mana bisa gw menyia-nyiakan fast food dengan cita rasa nikmat dengan ukuran porsi jumbo yang bisa memenuhi standar asupan gizi para tukang becak selama satu hari penuh! Seriously, Al Baik ini udah rasanya enak, dengan bumbu kubis yang khas, harganya murah pulak, di luar akan sehat! 10 biji nugget + 2 roti burger + french friesh aja harganya cuma kurang dari 30rb perak. Yang lebih tidak masuk akal lagi, porsi yang akan gw makan hasil pesanan tadi, 4 potong ayam ukuran jumbo + roti burger + french friesh, harganya cuma 26rb perak! Benar-benar tidak masuk akal!


Gw baru bisa ngabisin setelah 4 ronde : selama perjalanan, sebagai cemilan makan malam, plus dimakan 2 kali lagi setelah gw bawa pulang ke Bandung. Porsinya emang cukup buat dimakan sama 4 orang sekaligus, 26 ribu ÷ 4 orang = 6.500 per orang, mangtabsszzz!!!!

Kami melanjutkan perjalanan dengan gembira. Terlebih saya, karena jumlah porsi makanan dipesan lebih banyak daripada jumlah penumpang, makanya saya korup satu porsi lagi buat dibawa ke Bandung.

Someday, kalau kamu melewati restoran fast food, dengan lambang anak ayam berkemeja lengkap dengan kopiah Turki tersenyum gembira dengan ekspresi ”silahkan nikmati saya! mari...! mari...!”, saya rekomendasikan untuk mampir sebentar.


Cukup dengan selembar duit hijau 20 ribu dan selembar duit ungu 10 rb, anda bisa membungkam jerit kelaparan seluruh anggota keluarga anda. Tentunya dengan syarat anda peserta keluarga berencana, 2 anak cukup.

Bukan sesuatu yang khas sih... Tapi sesuatu yang worthed Prove it by yourself mamene....


Friday, December 18, 2009

masa KERJA PRAKTEK, for all engineer - part 2

Ini sekuel dari kisah yang lalu masa kerja praktek gw dulu di proyek konstruksi jembatan Suramadu. Tepatnya hanya pendetilan beberapa adegan yang sudah diceritakan secara global di kisah yang lalu.

THE BEGINNING


Setelah melewati berbagai rintangan kejam, perpisahan yang mengharukan dengan sang kekasih (sekarang mantan -red), setelah perjuangan panjang yang menumpahkan banyak darah, keringat, dan air mata, akhirnya gw & Jambi tiba di Surabaya.

Kami tiba di pagi hari dengan kereta Argo Wilis dari Bandung dengan penuh gaya. Begitu kami turun di stasiun Surabaya, serentak para kaum hawa memandangi kami dengan penuh antusias, 2 orang remaja tampan yang baru turun dari sebuah kereta api eksekutif berkelas.

Dengan tenang kami melangkah menuju lokasi parkiran, sambil menolak halus para porter menawarkan jasanya, mengucapkan “mohon maaf, anda kurang beruntung” kepada para wanita separuh baya, dan membagikan kartu nama kami sambil lalu kepada para remaja putri antusias yang mengerubungi kami.

Sampai di parkiran, kami dijemput bude saya, kemudian kami langsung meluncur menuju kediaman bude. Setelah menikmati sarapan pagi yang so pasti gratis, saya & Jambi sepakat akan untuk langsung menuju lokasi kerja praktek di Suramadu untuk mengurus perijinan sekaligus melihat lokasi proyek.

Dengan diantar langsung oleh supir bude, kami tiba di kantor proyek. Sesampainya di sana, berdasarkan informasi teman yang yang sudah terlebih dahulu melaksanakan kerja praktek di sana, kami mencari seseorang bernama pak Darsono untuk mengurus perijinan KP.

Setelah melewati beberapa saat masa tunggu yang menjemukan, akhirnya kami bisa menemui beliau. Beliau menanyakan surat pengantar KP kami, dengan gemilang saya tunjukan suratnya. Bukan surat sembarangan bos…. Tapi surat langsung dari pusat, memanfaatkan koneksi om saya yang kerja di sana. Di surat itu Pimpro-nya langsung sendiri pak A.G. Ismail yang tanda tanda. Kalau gak salah sekarang beliau udah jadi eselon 2 as Kepala Balai di Sumatera nan jauh di sana.

Berbekal surat sakti tersebut, pak Darsono tak kuasa menahan kami. Beliau mengijinkan kami KP sepuasnya, yang mana langsung kami tolak karena kami hanya ingin sebulan di sana. Siapa sih yang sanggup praktek lama-lama jauh dari sanak keluarga tanpa dibayar? Belum lagi sang kekasih menunggu kami dengan cemas di Bandung (sudah pernahkan saya bilang kalau sudah mantan? -red).

Kami sepakat untuk memulai kerja praktek keesokan harinya. Sayangnya terdapat permasalahan mengenai rencana tempat tinggal kami. Rencana kami untuk tinggal bersama teman kami yang sudah praktek sebelumnya terkendala karena rumah proyeknya akan digunakan Site Engineer yang baru akan tiba.

Untuk tinggal di rumah bude, juga bukan solusi tepat karena untuk transportasinya dengan angkutan kota (di Surabaya disebut LEN) jurusan Tambak Wedi-Keputih, membutuhkan waktu 2 jam perjalanan sekali jalan. Walhasil solusi terakhir adalah kos.

Di proyek, kami berkenalan dengan 2 orang mahasiswa praktek dari Untag Semarang bernama Adi & Fredi. Si Adi sebentar lagi masa kerja prakteknya mau habis sedangkan Fredi masih lanjut. Fredi menawarkan agar kami sementara tinggal di kosan-nya berhubung 2 orang temannya praktek di sisi Madura, sedangkan kami di sisi Surabaya-nya. Kesempatan emas tinggal gratis tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeser pun ini dengan sigap kami sambar.

Akhirnya kami tinggal di kosan Fredi, berbagi ranjang bertiga, Di sanalah awal mula persahabatan kami, yang penuh cerita. Kami bertemu bulan April 2004 di Surabaya, berbagi kisah dan cerita dalam berbagai hal, namun berakhir tidak bahagia di saat ini, Desember 2009, saya di Jakarta, Fredi di Semarang, Jambi di Bangka.

-to be continued-

Journey Akhir Tahun 2009 - dalam tata waktu acak - part-1

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5-6 jam dengan bus, akhirnya gw tiba di kota ini. Gw nyampe sekitar jam 10-an malem, langsung masuk hotel. Gw nginep di salah satu hotel punya Elaf Group. Well,,, ga sekeren hotel bintang 5 kebanyakan di kota ini sih,,, kayak Movenpick, InterContinental, Hilton, Sheraton dll, tapi gw suka hotel ini. Sebuah hotel dengan konsep syariah. Lagian gw selalu suka sesuatu yang baru, kemaren udah pernah sih nginep di Movenpick.




Prinsip syariah-nya ini yang menarik perhatian gw. Setau gw, pada bank syariah, nasabah membayar sesuai dengan kemampuannya atau sesuai kesepakatan proporsi bank dari berapa yang dihasilkannya. Nah kalau gw cuma mampu bayar 50rb semalam, bukan salah gw dong?




Dengan PD, gw melenggang kangkung masuk lobi hotel Setelah ambil card kamar tanpa peduli dengan rincian pembayaran, dan sedikit orientasi lapangan, gw masuk restoran hotel. Prinsip gw gampang, begitu dihadapkan dengan problematika kekurangan pembayaran, gw tinggal ngomong : "Bos,,, masukin rekening om saya ajah!"


Sementara tamu hotel lain confirm nama & no kamar mereka ke receptionist, tanpa ba..bi..bu.. gw menerobos masuk resto, kalau gw ditegor kan tinggal minta maaf Nama restorannya lucu, Andalus, kayak nama restoran padang. Bayangan gw makanannya gak jauh-jauh dari rendang, gulai gajebo, gulai kepala ikan kakap, sambal balado dll. Tanpa dinanya yang terhampar di adalah aneka panganan dengan cita rasa tinggi.


Jangan-jangan kokinya Yoichi Ajiyoshi, begitu nyicip makanannya dikit langsung badan gw terasa melayang di udara sambil teriak : ”Bravo..!!! Bravo...!!! Belum pernah saya makan seenak ini!!!!”, kata gw sambil meneteskan air mata. ”Taburan keju lembut di atas daging yang dimasak penuh kesabaran, membuat sensasi tersendiri! Sehingga rasa cinta sang koki terasa tersampaikan langsung di tiap gigitannya.







Gw yang terbiasa makan masakan katering kantor tentu gak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung gw penuhin piring gw dengan aneka makanan berbau borjois : nasi kebuli, sosis, udang ukuran jumbo, lamb, salad dll. Kelak gw bakal menyesal karena berat badan gw naek 4 kilo sejak cuti 2 bulan lalu. Kayaknya butuh kerja keras buat ngembaliin berat badan gw menuju berat ideal biar body gw nampak yahud kalau pake kemeja slim fit & jeans low waist.



Apa mau dikata? Makanan kayak gini gak tiap hari gw makan. Di lift hotel dipajang tema makanan restoran untuk tiap harinya berikut harga per person. Kalau gak salah sih untuk dinner sekitar 235 rebuan. NGERI !!! Jauh berbanding terbalik dengan konsumsi gw sehari-hari. Terakhir gw makan di warung makanan sunda ”Prancis” deket kampus, ambil tempe 2 sama telor 1 gw cuma bayar 5500 perak. Bebas refill minuman air putih plus ambil nasi, lalapan & sambel sepuasnya pula.


Habis makan gw naek ke kamar. Keluarga gw dapet kamar 902 di lantai 9, keluarga gw yang dari Depok di kamar 904, sementara om tante gw yang dari Jakarta di lantai 8. Setelah bongkar koper dan menyelesaikan beberapa urusan terkait dengan kamar kecil, daripada solat di kamar mendingan gw turun aja ke mesjid deket hotel. Begitu turun hotel, OMG! (OM Gaga !!!) dingin banged! Pake D!


Gw prediksi ada kali di bawah 180C. Sori kalau prediksi gw kurang akurat, gw teknik Sipil, bukan anak Meteorologi. Kalau lu habis kejedot tembok trus lu bisa kasih tau ke gw berapa percepatan gelombang yang merambat di ‘pala lo & berapa derajat kerusakan yang terjadi di jidat lo, gw dengan mudah bisa memprediksi apakah beton itu K-25, K-35 atau K-40.



Patokan gw ya AC yang ada di mess gw cuma sampai 180C, prediksi gw gak jauh-jauh dari sana. Coba kalau AC bisa sampai 50C, mungkin prediksi gw bisa lebih akurat, sekalian gw bisa dagang es batu ke tukang-tukang teh botol setempat dengan harga bersahabat. Friendship! Sub Zero Wins!


Habis solat gw naek lagi ke hotel. Ada kali jam ½ 1-an, habis nyalain weker buat bangun jam 2, gw tumbang dengan sukses. Sengaja weker gw stel pagi-pagi, soalnya gw takut ada masalah dengan pencernaan gw. Mending bangun pagi-pagi trus nungguin “Morning Calling”, daripada pas gw beraktivitas di pagi hari tau-tau kebelet, bisa gawat kan?



Jam 2 pagi, weker dengan gemilang menyalak nyaring. Gw matiin dengan lembut berhubung kemaren gw baru ngabisin 180rb buat biaya perbaikannya Perasaan dingin banget, gw cek setelan AC, wew! Sekitar 180-an! Bokap gw nih yang demen sama yang dingin-dingin Gw kutak-katik AC ini lucu juga, kalau di-setel di atas 200 langsung mati, minta diganti mode dari “cool” jadi “fan”. Gw lirik kiri-kanan, keluarga gw masih pada tidur, langsung gw puter suhunya jadi 250C, AC-nya mati, gw ganti jadi “fan” mode trus nyala lagi.


Tiba-tiba alarm kebakaran di lantai 9 nyala dengan ganas. NGUING! NGUING! NGUING! Gw panik! Masa gara-gara naekin suhu AC trus alarm kebakaran nyala? Keluarga gw pada kebangun semua. Gw pasang tampang pura-pura gak tau apa-apa buat menguatkan alibi. Bokap gw nyuruh gw ngeliat ke luar kamar, gw intip keluarga om gw di 904 pada kebangun, tamu di 903 keluar juga sambil celingak-celinguk, sementara kamar laen adem ayem aja.


Bokap gw ambil keputusan kalau kita semua langsung turun ke lobi lewat tangga. Langsung orang-orang 902, 903 & 904 berbondong-bondong turun ke bawah. Gw tambah panik! Kalau emang hotel ini kebakaran, masa gw harus terlunta-lunta di pinggir jalanan kota? Sementara di sini dingin banget. Gw langsung minta izin ke Bokap kalau gw turun belakangan mau ambil baju hangat dulu sebelum turun. Bokap minta gw cepetan.


Langsung gw buka koper besar gw. Tiba-tiba gw terbentur realitas, gw lagi pake celana bahan item sama kemeja putih, trus cocoknya pake apa ya? Pake sweater loreng Banana Republic, vest coklat M2 atau jaket ijo RipCurl? Daleman baju gw apa dong? Gw udah lama banget gak pake kaos dalem. Nyesel dah gw kemaren gak beli kemeja polos warna putih Giordano di PIM 2 sama anak-anak buat daleman. Dalam beberapa menit gw mendapati diri gw sibuk fitting baju.



Adaowwww...... Konyol banget kalau di halaman depan koran setempat ada berita :“Ditemukan seorang remaja tewas terbakar. Sang korban sedang melakukan fitting pakaian saat kejadian.” Serasa kurang dramatis aja. Kalau misalnya beritanya : ”Ditemukan seorang remaja tewas terbakar. Sang korban diduga melakukan salto dari lantai 9 dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Canggih! Spektakuler! Tidak memerlukan pengaturan napas! Sayang sang korban lupa bernapas”, nah kalau gitu kan berasa agak keren dikit?


Gw ambil keputusan kalau gw pake vest buat daleman trus ditutup sama kemeja putih. Gw ambil dompet, hp, tas kecil sama jam tangan, gw langsung turun. Waktu mau turun, kok di monitor display lift, lokasi lift-nya deket lantai 9? Dipikir-pikir capek juga naek tangga. Gw pencet lift-nya, langsung gw meluncur turun ke lobi. Sampe lobi gw liat tamu 903 nanya ke receptionist kenapa alarm kebakaran nyala? Receptionist bilang kalau gak ada kebakaran, kemungkinan ada yang merokok jadi alarm-nya aktif. Gw merhatiin aja tanpa ikut campur, bisa jadi sih.... kalau emang ada kebakaran, kok fire suspression di lantai 9 gak nyala & nyemprotin air? Well,,, EGP! Yang penting gw selamat, bukan salah gw kalau alarm-nya nyala. Gak lucu banget kalau alarm nyala gara-gara gw naekin suhu AC.





Beberapa menit kemudian, keluarga gw baru nyampe ngos-ngosan dari tangga darurat. Sementara gw sedang duduk-duduk santai di lobi sambil liat-liat brosur. Gw jelasin tentang dugaan receptionist mengenai kasus alarm tadi. Gw ditanya kenapa nekat naik lift? Kan bahaya? Kalau gw jawab, ”Pengen memacu adrenalin ajah...”, kok hati nurani melarang ya? Ya gw bilang kalo gw males naek tangga, hehe


Setelah pemberian wejangan singkat mengenai bahaya penggunaan lift pada saat kebakaran, berhubung nanggung bokap gw mutusin kalau mending kita langsung Subuh-an aja di mesjid depan hotel. Gw mau aja sih... tapi kok tiba-tiba gw dapet Morning Calling ya? Akhirnya gw misahin diri buat bongkar muatan dulu di kamar kecil restoran hotel. Setelah menunaikan hajat, gw langsung berangkat dengan suka cita.


Rasanya legaaaa... banget! Tapi di sisi lain, kota ini buat gw selalu menumbuhkan cinta. Ada beberapa kota, misalnya Batu – Malang dll yang bisa bikin perasaan gw kayak gini. Men..... indahnya menembus dinginnya udara pagi menuju kebahagiaan nyata. Gw janji dalam hati gw, gw pasti akan kembali ke kota ini, untuk menumbuhkan perasaan kayak gini, demi arti sebuah hidup.

Saturday, May 16, 2009

Petualangan ke Samarinda -part 1-

Akhir-akhir ini gw rajin banget nongkrong keluar. Walau gw stay di desa terpencil di mana sarana pendidikan masih harus menunggu instruksi presiden untuk dibangun, hal ini gak menghalangi hasrat gw untuk berpetualang dalam kehidupan malam di mikropolitan ini. Gak terlalu banyak sih tempat nongkrong di sini, tongkrongan paling gak jauh-jauh dari alun-alun, bukit di utara kota tempat liat citylight, cafe pinggir jalan, tugu perbatasan kota, dll.
*well... kayaknya gak ada yang keren & worthed untuk dibanggain
*
Tapi tetep.... sebagai trend setter, gw harus tetep update di sini.


Baydewey, sekarang udah dibuka Trade Centre (TC) baru di sini. Bukan mall sih... mirip Cilegon Super Mall lah (baca : ruko).
Gak butuh waktu lama, TC langsung jadi idola di kalangan remaja. Anak di sini demen banget nongkrong di TC. Cowok-cowoknya nangkring di pinggir-pinggir eskalator sambil liat ke bawah. Trus pada sok ngerokok, tapi gak ditarik, cuma isep-buang, isep-buang, biar keliatan keren doang. Cewek-ceweknya sibuk nyari pernak-pernik di lantai bawah. Trus yang udah ngerasa mature, karaoke-an. Gayanya sih masa kini, rambut British (kayak Andhika Kangen Band), setelah Harajuku (tabrak sana sini, kaki kanan pake sepatu Nike Mogan 6.0 kaki kiri pake bakiak, leher dikalungin syal nidji pake mantel musim panas, atasnya pake topi pramuka), gak lupa rokok Marlboro ngebul terus (padahal hasil minta doang). Tapi begitu milih lagu, Malaysia-an men...


Sungguh kota yang aneh... Eniwey kembali ke topik gw sebagai remaja gaul masa kini, seiring dengan semakin tingginya intensitas gw nongkrong keluar, dalam sekejap gw udah ngerasa bosen sama semua pusat hiburan di sini. Tiap malem gw kadang bingung mau ke mana. Sampai akhirnya semua berubah hari Jumat kemaren. Berikut sekilas pembicaraan gw dengan kakak kelas gw waktu kuliahan dulu di kantor :
Firman : Yal, malam ini nongkrong di mana?
Gw : Alun-alun lagi? Bosen gw, gimana kalo ke Samarinda? pengen cari pijat erotis

Firman : Tapi aku penyakitan yal... Suka ejakulasi dini
Gw : Ya udah kita masing-masing aja, lo pesen pijat tuna netra, gw pesen pijat tuna susila
Firman : Oke, besok pagi aja kita berangkat, biar siangnya habis nyampe langsung jalan
Gw : Setubuh!

Singkat cerita kita mutusin backpakers ke Samarinda di weekend. Berhubung cuma perjalanan 1 hari aja, gw cuma bawa baju 2 lembar sama celana pendek aja. Biar nyantai gw pake sendal jepit aja. Sabtu jam 7 pagi gw ke kamar Firman, eehhhh... dasar keparat! Dia belum siap, terpaksa gw tungguin dia mandi sekalian peres2 barang mini pribadinya.


Habis mandi, sebelum pake baju sempet2nya Firman pamerin baju Billabong merahnya, padahal belelnya udah gak karuan, kayak mukanya.
Eh... gak cukup sampe gitu, dia ngeluarin sepatu Reebok model Running sambil bilang, "Yal... di sini boleh setelan gembel, tapi kalo mau ke Samarinda, gaya kudu maksimal!!!!"


Gila!!!! Ini orang mau nantang gw, dia belum tau kalo gw AGJ yang kesasar di hutan. "Bentar Man... gw balik ke kamar, mau make over dulu". Langsung gw ganti semua setelan gw, baju volcom model slim fit, jeans lee cooper low oversize waist model vintage yang bikin kolor pierre cardin gw nampak jumawa, sepatu suede rhumell sama kaos kaki reebok tenggelam, jam tangan swatch irony & terakhir... tas punggung eastpak.

Begitu ngeliat tampilan gw yang berubah 360 derajat, *means sama aja, cuma keliatan kinclong dikit*, langsung Firman nyembah-nyembah.

Dengan gaya maksimal, akhirnya kita berangkat ke Samarinda, menuju gemerlapnya ibu kota Kalimantan Timur



-bersambung-